Harmoni Islam dan Etnisitas: Gagasan Visioner Prof. Abdur Rozak untuk Masa Depan Keindonesiaan Kita
YOGYAKARTA – Diskursus mengenai relasi antara agama, identitas lokal, dan kebangsaan terus menjadi perbincangan yang relevan di tengah masyarakat majemuk. Menjawab dinamika tersebut, Wakil Rektor II sekaligus Guru Besar Islam dan Etnisitas Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Abdur Rozak, M.Si., kembali menuangkan pemikiran bernasnya melalui tulisan bertajuk "Islam, Etnisitas, dan Dinamika Keindonesiaan Kita".
Gagasan yang dipublikasikan di halaman Opini Media Indonesia edisi Jumat, 17 April 2026 ini, tidak hanya menjadi sumbangsih pemikiran akademis, tetapi juga menjadi refleksi penting bagi seluruh elemen bangsa, khususnya mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change).
Dalam tulisannya, Prof. Rozak mengajak kita untuk tidak melihat keindonesiaan sebagai warisan masa lalu yang beku, melainkan sebagai sebuah proses yang terus-menerus dibangun (becoming process). Menurutnya, Indonesia adalah ruang negosiasi dinamis yang menjembatani dua pilar raksasa: identitas keagamaan (Islam) yang bersifat universal dan identitas primordial (etnisitas) yang bersifat lokal-partikular.
Mengutip pemikiran Benedict Anderson tentang "Imagined Communities", Prof. Rozak memaparkan betapa ajaibnya ribuan pulau dan etnik yang berbeda bahasa maupun asal-usul, sepakat untuk menyebut diri mereka sebagai satu bangsa. "Orang Madura tidak perlu berhenti menjadi orang Indonesia. Orang Aceh tidak perlu berhenti menjadi Aceh untuk menjadi Indonesia," tulisnya. Hal ini menegaskan bahwa keislaman dan etnisitas dapat saling memperkuat dalam bingkai konsensus luhur kebangsaan.
Tiga Jalur Damai Islamisasi di Nusantara
Bagi mahasiswa yang kerap mengkaji sejarah masuknya Islam, tulisan ini memberikan perspektif sejarah yang sangat mendalam. Prof. Rozak menegaskan bahwa rekam jejak penyebaran Islam di Nusantara berjalan melalui jalan damai tanpa agresi berskala besar, yang dibagi ke dalam tiga jalur utama:
Jalur Perdagangan: Interaksi para pedagang muslim (Timur Tengah, Gujarat, Persia) dengan penduduk lokal di pelabuhan-pelabuhan strategis seperti Malaka dan Sumatra. Interaksi ekonomi ini lambat laun membangun komunitas sosial keagamaan yang solid secara bertahap dan damai.
Jalur Perkawinan: Menandai pendekatan yang lebih emosional dan biologis. Perkawinan antarbangsa melahirkan generasi baru dengan potret identitas ganda yang harmonis, mengintegrasikan nilai Islam ke dalam struktur kekerabatan tanpa menghapus akar budaya seseorang.
Jalur Tasawuf: Para sufi Nusantara dinilai mampu menyelami kedalaman spiritualitas masyarakat lokal. Tanpa memaksakan perubahan radikal, pendekatan batiniah tasawuf berhasil menghadirkan wajah Islam yang luwes, welas asih, dan penuh cinta (mahabbah).
Pancasila: Jalan Tengah yang Menginspirasi
Lebih lanjut, Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga ini juga menyoroti kehebatan para founding fathers kita dalam merumuskan konsensus bernegara, yakni Pancasila. Indonesia mengambil posisi yang unik dan inklusif, berbeda dengan negara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam yang mempraktikkan ethnocratic welfare regime atau Pakistan yang berdiri atas asas ideologi tunggal Islam.
Prof. Rozak menyamakan konsensus Pancasila dengan semangat Piagam Madinah di era Nabi Muhammad SAW, yang berhasil membangun masyarakat kosmopolitan dan menghargai pluralitas tanpa diskriminasi suku, agama, ras, dan antargolongan.
Pesan Penutup untuk Mahasiswa dan Generasi Penerus
Di bagian akhir pidato dan opini tersebut, Prof. Rozak memberikan proyeksi masa depan yang patut direnungkan oleh sivitas akademika. Beliau membayangkan sebuah masa depan di mana identitas keislaman tidak lagi dipertentangkan dengan identitas etnik maupun kebangsaan. Kekuatan resiliensi bangsa ini justru terletak pada keberagaman identitas para penduduknya—baik sebagai muslim Jawa, muslim Minang, maupun muslim Bugis—yang terus menjalin dialog dan menghargai satu sama lain.
Pemikiran Prof. Abdur Rozak ini sekaligus menjadi seruan bagi para mahasiswa UIN Sunan Kalijaga untuk terus meneladani dan merawat pemikiran keislaman visioner dari para tokoh bangsa terdahulu seperti Gus Dur (dengan pribumisasi Islamnya), Nurcholish Madjid (Islam keindonesiaan), Moeslim Abdurrahman, hingga Kuntowijoyo.
Tugas kita sekarang, khususnya sebagai mahasiswa di kampus putih ini, adalah menjaga agar laboratorium Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi slogan di cengkeraman burung Garuda, melainkan terus hidup sebagai napas dalam setiap detak jantung kewarganegaraan kita.
Penulis: Maghrisul Akhiroh Syam
Sumber Referensi: Kolom Opini Media Indonesia "Islam, Etnisitas, dan Dinamika Keindonesiaan Kita" oleh Prof. Dr. Abdur Rozak, M.Si., 17 April 2026.